Friday, December 27, 2013

Tak Peduli Gula Darah, Bisa-bisa Cuci Darah !

Di suatu pojok ruang hemodialisis Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), saya melihat seorang pasien, laki-laki, usianya barangkali sekitar 40 tahun, sedang berbaring seperti biasanya, menjalani cuci darah (hemodialisis).

Saya melihat, tidak berapa lama setelah peralatan cuci darah terpasang dan mesinnya bekerja menggantikan ginjalnya yang tidak berfungsi itu, tampak dia langsung tidur. Suara dengkurannya yang dalam dan kuat seolah-olah tidak menggangu pasien lain yang ada di sebelahnya.

Sekitar 2 jam setelah itu, terlihat istrinya datang membawa makanan. Lalu, pasien tersebut tampak tiba-tiba tersentak bangun dan langsung makan didampingi istrinya.

Tertarik dengan pasien ini, dan ingin tahu mengapa dalam usianya yang relatif masih muda itu dia sudah harus menjalani cuci darah, saya lalu menghampirinya.

"Pagi dokter," sapa dia lebih dahulu.

"Pagi, apa kabar? Enak sekali tidurnya pagi ini," seloroh saya.

"Hehehe, Alhamdulillah, baik dokter."

"Syukurlah, walaupun harus menjalani cuci darah, yang penting semua ya tergantung bagaimana reaksi kita saja. Ada pasien yang sudah menjalaninya selama 26 tahun. Saya lihat dia masih oke saja. Mudah-mudahan Anda juga demikian."

"Ya, dokter, saya juga berharap demikian. Tapi dokter, saya baru saja, baru 2 minggu ini, saya masih agak stres, belum bisa menerimanya."

"Insya Allah nanti terbiasa, seperti yang lainnya."

"Oh ya, mengapa Anda sampai menjalani ini?" tanya saya karena ingin tahu apa sebenarnya penyakit dasar yang membuat dia harus menjalani cuci darah ini.

"Saya menderita diabetes melitus dokter, sejak 15 tahun lalu. Tapi, waktu itu saya tidak begitu pedulikan. Saya tidak pernah memikirkan akan seperti ini akhirnya. Saya menyesal sekali dokter," ungkapnya.

"Ya, saya ikut prihatin, tetapi menyesalinya tidak membuat Anda menjadi ebih baik. Masih banyak yang dapat Anda lakukan ke depan agar keadaan menjadi lebih baik, kualitas hidup Anda juga semakin baik juga. Dan, harus Anda ingat, bahwa Anda tidak sendiri, banyak orang lain seperti Anda, mereka bisa menjalaninya dengan baik," ungkap saya, memberi semangat pasien.

Diabetes memang sebagai salah satu penyebab utama pasien gagal ginjal yang akhirnya menjalani cuci darah. Di Amerika Serikat, penyebab terbanyak pasien gagal ginjal adalah akibat komplikasi diabetes. Di Indonesia, sebagai penyebab nomor 2 setelah penyakit glomeronefritis. Walau begitu, tidak semua penyandang diabetes berakhir demikian, hanya kurang dari sepertiga pasien diabetes yang akhirnya menjalani cuci darah.

Tetapi, walau tidak semua pasien diabetes akan mengalami komplikasi gagal ginjal, komplikasi ini pasti tidak ada yang menginginkan. Di samping harus cuci darah selama hidupnya, pasti juga tidak nyaman, biaya besar, dan angka kematian mereka juga lebih tinggi. Karena itu, sebelum ini terjadi banyak yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Kenali secara dini tanda gejalanya

Gejala dan tanda gagal ginjal secara dini sering tidak muncul. penurunan fungsi ginjal sampai 60 persen saja tidak memberikan gejala yang khas. Walau demikian, sering buang air kecil malam hari, buang air kecil yang berbusa, kulit kering, gatal, mual, muntah, lemah, kram pada kaki, terutama malam hari, adalah sebagian dari tanda dan gejala gangguan fungsi ginjal. Hipertensi, tungkai yang bengkak, ureum, dan kreatinin darah yang yang mulai tidak normal juga menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal. Adanya protein dalam urine adalah tanda dini gangguan fungsi ginjal sehingga pemeriksaan ini perlu dilakukan seawal mungkin. Paling tidak sekali dalam setahun pemeriksaan ini harus dikerjakan.

Gula darah

Mengontrol gula darah adalah cara terbaik mencegah kerusakan ginjal Anda. Semakin tidak terkendali gula darah Anda, semakin besar risiko Anda mengalami gagal ginjal. Karena itu, memeriksa gula darah setiap hari, dan Hb A1C setiap 3-6 bulan, sebaiknya Anda lakukan. Diet, olahraga, dan jika diperlukan obat-obatan harus Anda konsumsi secara teratur.

Tekanan darah

Tekanan darah harus dipertahankan di bawah 130/80 mm Hg, walaupun Anda tidak mengalami keluhan. Semakin tinggi tekanan darah, semakin besar juga risiko Anda mengalami gagal ginjal. Pemakaian obat-obatan tertentu menurut penelitian akan memperlambat dan menurunkan risiko ini.

Diet rendah garam

Membatasi konsumsi garam penting pada pasien diabetes, apalagi kalau juga ada hipertensi. Mengurangi konsumsi garam membantu mengontrol tekanan darah, dan tentu juga risiko gagal ginjal.

Protein

Pasien diabetes dengan penyakit ginjal harus mendapatkan asupan protein yang cukup, tetapi jangan berlebihan. Penelitian menunjukkan bahwa mengurangi asupan protein dapat memperlambat memburuknya fungsi ginjal. Oleh sebab itu, konsultasi kepada ahli diet itu sangat penting.

Obat-obatan dan herbal

Beberapa obat-obatan pereda nyeri, obat-obat rematik yang sering dijual bebas, herbal, tertentu sebaiknya dihindari. Obat-obat ini dapat memperburuk fungsi ginjal. Kalau terpaksa menggunakannya, konsultasi dulu dengan dokter yang merawat Anda.

Rokok

Merokok dapat mempersulit kontrol gula darah. Tekanan darah juga sulit terkendali. Aliran darah ke ginjal juga semakin berkurang. Akibatnya, risiko gagal ginjal semakin besar. Karena itu, memilih berhenti merokok adalah lebih baik.

Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih sering dialami panyandang diabetes. Infeksi berulang yang tidak terkontrol dengan baik dapat menyebabkan kerusakan pada struktur dan fungsi ginjal. Mengendalikan infeksi ini dengan baik perlu Anda lakukan.

Faktor risiko lain

Kelompok tertentu kemungkinan mempunyai risiko penyakit ginjal kronis dibandingkan kelompok lain. Risiko akan lebih besar bila usia Anda lebih dari 65 tahun, ada hipertensi, mempunyai riwayat keluarga dengan penyakit ginjal kronis. Bila Anda menyandang diabetes, kemudian termasuk dalam kelompok ini, Anda harus lebih hati-hati dalam mengendalikan gula darah Anda.

Jadi, agar tidak seperti pasien di atas, kendalikanlah gula darah Anda dengan baik, dan lakukanlah tindakan pencegahan sedini mungkin. Ingat, mencegah itu lebih baik daripada mengobati!

Ukur Kadar Kalsium Cegah Serangan Jantung dan Stroke

Tekanan darah dan kadar kolesterol umumnya digunakan sebagai indikator dalam mengukur risiko serangan jantung dan stroke. Namun menurut penelitian baru, mengukur kadar kalsium dalam arteri dapat menjadi indikator yang lebih baik.

Penelitian tersebut mengatakan, cara pengukuran tradisional dengan tekanan darah dan kolesterol dapat memberikan hasil yang keliru sehingga seringkali pasien mendapatkan peresepan obat yang tidak perlu, misalnya obat penurun kolesterol statin. Ini artinya, banyak orang dengan risiko serangan jantung dan stroke rendah namun tetap minum obat yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Sebaliknya, penelitian menyebutkan, tabungan kalsium dalam arteri yang terdeteksi dalam CT Scan dapat memberikan hasil yang lebih akurat. Menurut para peneliti, orang yang dengan sedikit atau tidak memiliki tabungan kalsium dalam arterinya, risiko serangan jantung dan stroke sangat kecil.

Lantaran risiko yang kecil tersebut, peneliti berpendapat, orang-orang itu hanya butuh saran perubahan gaya hidup, namun tidak perlu sampai mengonsumsi obat secara rutin.

Kalsium yang terdapat di arteri dapat memicu kalsifikasi plak. Hal tersebut dapat menghasilkan pengerasan pembuluh darah yang menjadi salah satu pemicu serangan jantung.

Hasil temuan penelitian terbaru yang dipublikasi dalam European Heart journal itu pun dipercaya menambah bukti pemindaian kalsium dalam pembuluh darah sebagai salah satu cara untuk memprediksi risiko serangan jantung.

Penelitian tersebut melibatkan hampir 7.000 peserta yang telah melalui pengukuran risiko serangan jantung secara tradisional yaitu dengan kadar kolesterol, tekanan darah, dan gaya hidup. Mereka juga menjalani pemindaian kalsium pada arterinya. Kemudian, mereka diikuti selama tujuh tahun.

Peneliti studi Roger Blumenthal, profesor kedokteran dan direktur di Johns Hopkins Ciccarone Center mengatakan, 15 persen orang yang dinyatakan memiliki risiko kecil serangan dan jantung dengan pengukuran tradisional ternyata mendapatkan nilai yang tinggi untuk kandungan kalsium dalam pembuluh darahnya. Dan hasilnya, setelah diikuti selama tujuh tahun, risiko mereka tinggi.

"Di lain sisi, 35 persen peserta yang dinyatakan risiko tinggi dan harus minum obat-obatan seperti aspirin dan statin tidak memiliki kalsium pada arteri mereka. Hasilnya risiko mereka sangat kecil setelah tujuh tahun," ungkapnya.